Kegiatan ini mengusung tema “Solidaritas Bersama Pengungsi”, yang menjadi momentum refleksi sekaligus bentuk nyata dukungan kepada para pengungsi, khususnya etnis Rohingya, yang saat ini masih berada dalam kondisi ketidakpastian dan keterbatasan.
Acara difokuskan pada kegiatan anak-anak pengungsi, yang diawali dengan pembacaan surat-surat pendek Al-Qur’an, dilanjutkan dengan lomba menggambar dan mewarnai bertemakan harapan mereka akan masa depan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak, tetapi juga menjadi bentuk penguatan psikososial melalui pendekatan kreatif dan inklusif.
“Serangkaian kegiatan dan lomba ini adalah wujud solidaritas terhadap mereka yang sedang berjuang mencari penghidupan yang lebih baik. Pengungsi bukan sekadar angka—mereka adalah manusia yang punya cerita, mimpi, dan hak untuk hidup dengan aman dan bermartabat,”
ujar Budi Luhur Ramadhansyah, staf Yayasan Geutanyoe, saat membuka acara di Camp Mina Raya, Padang Tiji, Kabupaten Pidie.
Budi menambahkan, bahwa kegiatan ini juga ditujukan untuk membangkitkan semangat anak-anak pengungsi yang telah lama berada di kamp-kamp tersebut, agar tetap memiliki harapan dan kepercayaan diri dalam menghadapi masa depan.
Yayasan Geutanyoe terus berkomitmen memperjuangkan hak-hak pengungsi melalui pendekatan kemanusiaan, advokasi kebijakan, dan penguatan kapasitas komunitas, agar tercipta lingkungan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
“Hari Pengungsi Sedunia adalah momentum penting untuk menyuarakan hak, martabat, dan harapan para pengungsi serta memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menjamin perlindungan mereka,”
tambah Budi Luhur.
Dengan tantangan global yang terus meningkat, Hari Pengungsi Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua bahwa empati dan solidaritas lintas batas adalah fondasi penting dalam membangun peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.[AN]